Ranjang Goyang Di Malam Jumat

Aku tidak menyangka kalau semuanya ini bakal terjadi. Aku memang sering mengkhayalkannya. Tapi tidak pernah merencanakannya. Dan begitulah, kehidupanku jadi banyak liku - likunya. Liku - liku yang indah mau pun yang jahanam. Tapi aku harus mengakuinya, bahwa semua itu jahanam tapi indah… indah sekali.

Perkenalkan dulu namaku Chepi (nama - nama pelaku dan TKP sudah disamarkan semua).

Aku hanya mendengar ceritanya saja, bahwa Papa menikah dengan Mama pada saat Mama berusia 19 tahun dan Papa sudah berusia 41 tahun. Lalu Mama hamil dan melahirkanku ketika usia Mama sudah 20 tahun.

Kemudian pada saat aku baru berumur 9 tahun, Papa bercerai dengan Mama.

Pada saat itu aku masih kecil, baru kelas 3 SD. Sehingga aku tidak punya inisiatif untuk bertanya kenapa mereka harus bercerai. Aku hanya menurut saja. Bahwa aku harus ikut pada Papa, meski pun Mama berusaha untuk membawaku ke rumah orang tuanya.

Dan yang sangat menyedihkan (tapi aku tak berani melawan), aku dilarang mengunjungi rumah Mama di kampung yang lumayan jauh dari kotaku. Aku menurut saja, meski hatiku berontak, karena merasa masih membutuhkan pelukan kasih sayang Mama.

Setelah aku besar, barulah aku tahu bahwa Mama minta diceraikan, karena Papa menikah lagi dengan seorang gadis yang usianya hanya 10 tahun lebih tua dariku. Gadis yang dinikahi oleh Papa itu adalah anak buah Papa sendiri di kantor.

Hanya beberapa hari setelah Mama pulang ke rumah orang tua di kampungnya, seorang wanita yang masih sangat muda dibawa ke rumah Papa. Wanita yang baru berusia 19 tahun itu Papa perkenalkan padaku sebagai ibu tiriku. Dan sejak saat itu aku harus memanggilnya Mamie.

Aku yang merasa sangat disayangi oleh Papa, tidak pernah complain dengan kenyataan ini.

Memang aku sering mendengar tentang kejamnya ibu tiri. Tapi ternyata aku mendapatkan ibu tiri yang sangat lembut dan baik sekali padaku. Karena itu aku tak punya alasan untuk tidak menghormati ibu tiri yang sudah dibiasakan kupanggil Mamie itu, sebagai pengganti Mama kandungku.

Aku pun lalu tahu bahwa aku ini anak bungsu Papa. Karena sebelum menikah dengan Mama, Papa sudah menikah dua kali. Dari perkawinan sebelumnya itu Papa mendapatkan dua orang anak perempuan. Tapi kedua - duanya sudah pada punya suami. Aku hanya pernah berjumpa dua kali dengan kedua kakak seayah berlainan ibu itu, pada saat aku baru duduk di TK dan ketika Papa sudah membawa Mamie ke dalam rumah ini.

Kakak seayahku yang pertama bernama Susie. Sedangkan kakak seayah yang kedua bernama Nindie. Karena aku orang Jabar, aku memanggil mereka Teh Susie dan Teh Nindie.

Aku masih ingat benar, pada kedatangan yang kedua itu, kakak - kakak seayahku menasehatiku agar jangan nakal, karena aku tidak tinggal bersama ibu kandung lagi. Mudah - mudahan aja Mamie menyayangimu, kata Teh Susie saat itu.

Dalam kenyataannya Mamie memang sangat baik padaku. Memarahiku pun tidak pernah. Bahkan aku merasa dimanjakan olehnya, baik dalam membelikan pakaian mau pun membelikan coklat atau permen buatku. Ketika Mamie tahu aku ini senang baca komik, dia pun membelikanku beberapa buah buku komik yang sangat kusukai.

“Iya Mam,” sahutku saat itu.

Tadinya kupikir kebaikan Mamie hanya bermuka - muka, agar Papa makin sayang padanya. Tapi ternyata tidak seperti itu. Setiap kali Papa bertugas ke luar kota dan terkadang menginap sampai 3 - 4 malam di luar kota, Mamie malah semakin baik padaku. Bahkan boleh dibilang Mamie itu sangat memanjakanku pada saat Papa di luar kota.

“Tetap baik Pap,” sahutku.

“Makanya kamu harus bisa menyesuaikan diri padanya ya Chep. Jangan nakal dan turuti apa pun yang Mamie minta dan suruh.”

“Iya Pap.”

Mamie memang sangat baik padaku. Jadi, tidak ada hal yang harus kulaporkan kepada Papa.

Yang paling menyenangkan, setiap aku berulang tahun, Mamie selalu memberikan kado ulang tahun yang bagus - bagus. Bahkan pada saat aku berulang tahun yang ketujuhbelas, Mamie menghadiahkan sebuah motor bebek baru. Dengan pesan cepat bikin SIM A dan C, jangan dipakai ngebut - ngebutan, karena Mamie tidak ingin melihatku mengalami kecelakaan.

“Iya Mam,” sahutku, “Aku kan gak suka kebut - kebutan. Ohya… SIM A untuk apa Mam?”

“Kalau kamu sedang nyantai bisa kan nyetirin mobil mamie?”

“Owh… siap Mam. Aku kan udah bisa nyetirin mobil Papa. Tapi belum punya SIM, karena belum tujuhbelas tahun.”

“Iya, makanya nanti sekalian bikin SIM A. untuk biayanya sih nanti mamie transfer ke rekening tabunganmu.”

“Siap Mam.”

Sebelum menikah dengan Papa, Mamie harus resign dari perusahaan. Karena di dalam perusahaan itu tidak boleh ada dua orang atau lebih yang ada pertalian darah. Tidak boleh pula ada suami - istri yang sama - sama bekerja di perusahaan itu.

Itulah sebabnya harus ada yang resign salah seorang, Papa atau Mamie. Maka Mamielah yang resign, karena kedudukannya lebih rendah daripada Papa. Gajinya juga jauh lebih kecil daripada gaji dan penghasilan sampingan Papa.

Tapi Mamie sangat rajin berbisnis. Setelah resign dari perusahaan dan menikah dengan Papa, Mamie mencari uang sendiri di rumah. Sehingga banyak ibu - ibu berdatangan ke rumah sebagai rekan bisnis Mamie. Aku tidak tahu persis apa saja yang diolah oleh Mamie untuk bisnisnya. Kelihatannya Mamie menjual kebutuhan wanita semua.

Dan tampaknya Mamie sukses dalam bisnisnya. Sehingga ruang tamu dijadikan kantornya. Ada dua orang cewek yang bekerja di ruang tamu yang sudah dijadikan kantor itu.

Sukses Mamie memang mengagumkan. Sehingga dalam tempo singkat Mamie bisa membeli sebuah sedan yang harganya lebih mahal daripada mobil SUV Papa.

Ya… aku kagum pada gesit dan lincahnya Mamie dalam berbisnis.

Tapi… ada kekaguman lain yang kurahasiakan di dalam hati. Kagum pada kecantikan Mamie yang luar biasa pengaruhnya ke dalam batinku ini.

Yang membuatku heran adalah, sudah sekian lamanya Mamie jadi istri Papa, tapi tidak hamil - hamil juga. Apakah Mamie wanita mandul atau bagaimana? Entahlah. Aku tak berani menanyakannya.

Yang jelas, setiap kali aku berdekatan dengan Mamie, sudut mataku selalu “rajin” mencuri - curi pandang pada keelokannya. Bahwa Mamie berperawakan tinggi langsing, namun sepertinya padat berisi dan tidak kurus.

Kulitnya putih kekuningan. Sepasang matanya bundar bening. Hidungnya mancung meruncing. Bibirnya tipis merekah. Dan yang paling kukagumi adalah giginya itu. Putih dan rapi sekali, seolah sudah diatur semuanya. Maka kalau Mamie sedang tertawa, aku suka terlongong memperhatikan dua baris gigi yang rapi dan “tertib” itu.

Namun kekagumanku tentang daya pesona Mamie itu tetap kurahasiakan di dalam hati. Karena aku pun sadar bahwa Mamie itu milik Papa yang paling berharga.

Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berputar terus dengan cepatnya. Tanpa terasa nanti tengah malam jam nol-nol, umurku akan menjadi 18 tahun.

Aku malah teringat Papa yang sedang di luar kota. Kalau usiaku 18 tahun, usia Papa pun akan genap 60 tahun, karena Pazpa menikah dengan Mama waktu berusia 41 tahuyn dan katika aku lahir usianya sudah menjadi 42 tahun. Sedangkan Mama waktu melahikan aku usianya baru 20 tahun. Berarti sekarang usia Mama sudah 38 tahun.

Yang membuatku bersemangat di usia 18 tahun ini, karena Papa sudah berjanji bahwa kalau usiaku sudah 18 tahun, aku boleh menemui Mama di kampungnya yang masih kuingat jalannya. Bahkan bentuk rumahnya pun masih kuingat (kalau belum dirombak). Pokoknya rumah Mama itu hanya terhalang 1 rumah di samping Puskesmas.

Memang jam 00.00 nanti usiaku genap 18 tahun. Tapi kegiatanku di kampus tadi sangat meletihkan. Sehingga aku hanya kuat melek sampai jam 22.00, kemudian mengganti pakaianku dengan kaus oblong dan celana pendek serba putih, lalu terlelap tidur setelah mematikan lampu utama, tinggal lampu LED biru yang cuma 2 watt kubiarkan tetap menyala seperti biasanya.

Namun rasanya baru sebentar aku tidur (sebenarnya sudah 2 jam aku tidur), tiba - tiba aku merasa bahuku digoyang - goyang disertai suara wanita memanggil - manggil namaku, “Chep… Chepi… Chep… bangun dulu sebentar…”

Dengan malas - malasan aku membuka mataku. Dan alangkah kagetnya ketika di dalam keremangan cahaya lampu biru 2 watt, kulihat wajah… Mamie!

“Oooh… Ma… Mamie…!” ucapku tergagap, “Ada apa Mam?”

Aku spontan terduduk. Spontan juga Mamie mengecup sepasang pipiku disusul dengan ucapan, “Selamat ulang tahun yang ke delapan belas ya Chepi Sayang. Semoga panjang umur dan sukses di masa depan.”

Aku terperangah. Karena harum parfum yang Mamie kenakan, tersiar ke penciumanku. Membuat suasana jadi berbeda dengan biasanya. “Terima kasih Mam. Aku malah lupa kalau hari ini ulang tahunku,” ucapku berbohong. Padahal dari tadi sore aku sudah mengingat - ingat hari yang sangat penting bagiku ini. Lalu aku turun dari bed untuk menyalakan lampu utama.

Keadaan di dalam kamarku pun menjadi terang. Mamie pun berdiri dan mengusap - usap rambutku sambil bertanya, “Kamu mau hadiah apa di ulang tahunmu kali ini? Mau tukar motor bebekmu dengan moge?”

“Nggak Mam, “aku menggeleng, “Kalau punya moge, nanti malah jadi seneng main jauh - jauh. Motor yang ada sudah sangat menolong buat kuliah Mam.”

“Terus mau apa dong? Ngomong aja terus terang. Apakah kamu mau dibeliin jam tangan yang seharga dengan moge?”

“Nggak Mam. Di zaman sekarang anak muda sudah gak suka jam tangan lagi. Karena untuk melihat jam kan tinggal lihat di hape aja.”

“Terus… mau hape yang harganya sama dengan moge?”

“Gak juga. Hape mahal - mahal sekalinya hilang pasti nyeselnya berbulan - bulan.”

“Terus mau apa dong? Masa gak punya request sama sekali?”

“Mmm… ada sih yang aku inginkan. Tapi bukan dalam bentuk barang.”

“Mau apa? Mau tour ke Bali atau ke Singapura atau ke Australia atau…”

“Aku pengen ngerasain tidur sama Mamie, “potongku.

“Haaa? Kok pengen tidur sama mamie? Kenapa?”

Aku berpikir sesaat, untuk mencari alasan. Lalu berkata, “Waktu Mama belum pisah sama Papa, aku sering tidur dalam pelukannya. Terasa nyaman sekali. Tapi setelah Mama meninggalkan rumah ini, aku selalu tidur sendirian. Tidak pernah lagi me…”

Mamie memotong ucapanku, “Ya sudah sudah… mamie mau bobo sama kamu sekarang. Mumpung Papa masih lama di luar kota. Mau tidur di mana? Di kamar mamie atau di sini aja?”

“Di sini aja. Hehehe… beneran Mamie mau tidur di sini?“tanyaku sambil memegang kedua tangan Mamie.

“Iya. Tapi mamie mau ganti baju dulu ya. Ini kan gaun yang sengaja mamie pakai untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Apa kamu gak mau makan di luar untuk merayakan ulang tahunmu?”

“Besok lagi aja Mam. Sekarang udah tengah malam gini, mendingan juga bobo.”

“Oke,“ Mamie mengangguk sambil tersenyum. “Mamie mau pakai kimono dulu ya.”

“Iya Mam.”

Kemudian Mamie meninggalkan kamarku. Aku pun mematikan lampu utama lagi dan menyalakan lampu tidur 2 watt itu. Lalu menunggu Mamie datang lagi dengan merebahkan diri di atas bed, dengan terawangan bermacam - macam dan berkacau balau di benakku.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku berterus terang bahwa aku sering digoda oleh mimpi - mimpi jahanam yang selalu membuat celanaku basah itu? Haruskah aku berterus terang bahwa sebenarnya aku sudah lama tergila - gila oleh Mamie?

Ah, entahlah. Aku harus menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk membuka isi hatiku selama ini. Tapi apakah Mamie takkan marah lalu bereubah sikap menjadi jutek padaku kelak?

Sesaat kemudian Mamie sudah masuk lagi ke dalam kamarku, dengan mengenakan kimono putihnya. Entah kenapa, aku jadi degdegan dibuatnya. Karena ini untuk pertama kalinya Mamie akan tidur bersamaku.

“Kamu romantis juga ya. Lampu tidur juga berwarna biru,” kata Mamie sambil naik ke atas bedku. Lalu merebahkan diri di samping kiriku. “Ohya… selama ini mamie gak pernah lihat kamu pacaran Chep.”

“Aku memang belum pernah punya pacar Mam.”

“Kenapa? “tanya Mamie sambil menyelinapkan tangannya ke balik kaus oblongku. Dan mengusap - usap dadaku dengan lembut. “Tapi kamu normal kan?”

“Maksud Mamie normal apanya?” tanyaku semakin degdegan. Karena baru sekali ini Mamie mengusap - usap dadaku seperti ini.

“Normal dalam hal yang satu itu… mmm… kamu bukan penyuka sesama jenis kan?”

“Iiih… amit - amit. Aku normal Mam.”

“Lalu kenapa gak pernah pacaran? Belum nemu yang sesuai dengan kriteriamu?”

“Iya Mam. Belum nemu cewek yang persis seperti Mamie dalam segalanya,” sahutku nekad.

“Haaa?” Mamie spontan bangkit. Duduk sambil menatapku dengan sorot heran, “Kamu nyari cewek yang seperti Mamie? Memangnya bagaimana perasaanmu selama ini sama Mamie?”

Aku tetap celentang dan menyahut sambil memejamkan mataku, “Sejak kecil sampai sekarang aku sayang sama Mamie. Aku juga kagum sama Mamie. Kagum sekali. Sampai sering terbawa - bawa ke dalam mimpi.”

“Ohya?! Kamu kagum sama mamie dalam hal apanya?”

“Dalam segalanya Mam… tapi Mamie jangan marah ya. Aku hanya ingin membuka isi hati yang sebenarnya.”

“Ya. Ngomong deh terus terang. Mamie paling suka orang yang jujur, yang selalu berterus terang dalam segala hal.”

“Sejak kecil aku mengagumi kecantikan Mamie dan gerak - gerik Mamie yang… aaaah… begitulah Mam.”

“Lalu kamu sering mimpiin mamie?”

“Iya Mam.”

“Mimpinya seperti apa?”

“Jauh… jauh dari kenyataan Mam.”

“Pernah mimpi dicium sama mamie?”

“Sering. Lebih jauh lagi juga sering.”

“Haaa… lebih jauh lagi itu seperti apa?”

“Malu mengatakannya Mam.”

“Jangan malu - malu dong. Jujur aja bilang, apa yang pernah kamu mimpikan tentang mamie?”

“Pokoknya… mmm… pagi harinya celanaku jadi basah Mam…”

“Hihihi… “Mamie mencubit pipiku, “Kamu mimpi begituan sama mamie?”

“Iii… iya Mam.”

“Kok bisa?!”

“Nggak tau kenapa Mam. Yang jelas mimpi - mimpi itu tidak diundang. Berdatangan sendiri dalam tidurku.”

“Kamu tentu sadar mamie ini punya papamu yang begitu menyayangimu kan?”

“Sadar kalau Mamie ini punya Papa. Aku salah ya Mam? Maaf kalau aku salah.”

Mamie merebahkan diri lagi di sampingku. Harum parfum Mamie tersiar lagi ke penciumnanku. Lalu Mamie melingkarkan lengannya di atas perutku sambil berkata lembut, “Kamu tidak salah Sayang. Kan mimpi itu tidak bisa diminta. Suka datang sendiri tanpa diundang. Hanya saja… ah… entahlah. Kamu ini bikin mamie bingung Chep.

Aku terdiam. Suasana pun jadi hening. Hanya elahan nafas Mamie dan nafasku yang terdengar.

Lalu Mamie mendekap pinggangku sambil bertanya, “Terus mamie harus gimana supaya kamu senang?”

“Nggak tau Mam. Aku juga bingung,” sahutku dalam kebingungan. Tapi diam diam… ada yang menegang di balik celana pendek putihku…!

“Kamu pengen merasakan ciuman bibir sama mamie?”

“Ma… mau Mam… ka… kalau Ma… Mamie gak keberatan“sahutku gagap.

Sebagai tanggapan ucapan gagapku, Mami bergerak ke atas dadaku. Menghimpitku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu… Mamie memagut bibirku ke dalam ciumannya yang harum penyegar mulut. Membuatku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, selain mendekap pinggangnya erat - erat.

Tapi aku tahu benar bahwa penisku langsung ngaceng berat ketika sedang berpelukan dan berciuman ini. Dan… Mamie juga tahu hal ini, karena tangannya merayap ke balik celana pendekku. Lalu tersentak kaget, “Punyamu luar biasa gedenya… Punya Papa juga kalah… tidak sepanjang dan segede ini …” ucapnya setengah berbisik.

Aku terdiam sambil berharap semoga Mamie kasihan padaku dan memberikan sesuatu yang kudambakan selama ini.

Tapi Mamie malah menghela nafas. Lalu menelentang di sampingku sambil mengusap - usap dahinya, seolah tengah memikirkan sesuatu.

“Kamu tau apotek yang buka duapuluhempat jam kan?” tanyanya.

“Tau Mam. Ada dua apotek yang buka duapuluhempat jam.”

“Beliin pil anti hamil gih.”

“Iya Mam,” sahutku sambil duduk, “Sekarang?”

“Iya. Ambil aja duitnya di laci meja rias mamie. Beli satu strip aja,” ucap Mamie.

Seperti biasa, aku tak pernah bertanya dan membantah kalau Mamie sudah menyuruhku.

Kemudian aku turun dan mengambil jaket kulitku yang tergantung di kapstok. Dan melangkah ke luar sambil mengenakan jaket kulit ini.

Sebenarnya aku heran juga kenapa Mamie menyuruhku membeli obat anti hamil. Apakah dengan berciuman saja bisa menyebabkan kehamilan? Tapi bukankah Mamie itu mandul sehingga sampai sekian lamanya jadi istri Papa tidak bisa hamil- hamil juga? Lalu buat apa pil anti hamil itu?

Entahlah. Yang jelas aku harus mengikuti perintahnya.

Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan motorku di saat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul satu pagi.

Jalanan yang sudah lengang membuatku bisa bergerak cepat. Sehingga tak lama kemudian aku sudah pulang sambil membawa pil yang Mamie suruh beli itu.

Mamie tampak sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas coffee late.

“Cepat sekali… ngebut barusan?” tanyanya sambil memperhatikan bagian belakang strip pil kontrasepsi itu. Mungkin sedang membaca aturan pakainya.

“Nggak Mam. Kebetulan aja jalannya sedang kosong,” sahutku sambil duduk di samping Mamie di atas sofa.

Lalu Mamie menatapku dengan senyum. “Chepi… kamu sudah pernah menggauli perempuan? Ngomong aja terus terang, jangan bohong ya.”

“Belum pernah Mam. Disumpah dengan kitab suci juga aku mau.”

“Kalau ngocok aja sih suka kan?”

“Nggak Mam. Tapi me… meletus sendiri di celana sih sering.”

“Tiap kali mimpiin mamie kamu suka basah?”

“Iya Mam.”

“Kasihan anak mamie…” ucap Mamie sambil memijat hidungku. Lalu mengecup bibirku. “Sering nonton video porno?”

“Jarang sekali Mam. Paling juga baru tiga kali. Soalnya kalau sudah nonton bokep, aku suka tersiksa sendiri.”

“Iya… memang jangan sering - sering nonton bokep. Karena kamu masih sangat muda. Bokep sih untuk perangsang manusia yang sudah tua.”

“Iya Mam.”

“Kamu pernah melihat mamie telanjang?”

“Pernah, cuma satu kali. Itu juga pada waktu aku masih kecil, kalau gak salah waktu baru kelas satu SMP. Waktu itu aku mau minta uang untuk bayaran sekolah. Aku masuk ke kamar Mamie, tapi Mamie sedang mandi. Dinding kamar mandi Mamie kan terbuat dari kaca blur. Jadi kelihatan Mamie lagi mandi. Tapi samar - samar, karena kacanya blur.

“Belum pernah melihatnya secara jelas?”

“Belum.”

“Kamu ingin melihat mamie telanjang secara jelas?”

“Ka… kalau Mamie gak keberatan… mau banget…”

“Terus… kalau mamie udah telanjang mau diapain?”

“Ng… nggak tau… mungkin mamie bisa ngajarin aku, karena aku belum pernah merasakan begituan sama perempuan. Ciuman pun baru merasakan dengan Mamie tadi.”

“”Sebenarnya di usiamu sekarang ini, normal - normal aja kamu merasakan hubungan sex dengan perempuan. Yang gak normal adalah… mamie ini istri papamu Chep. Jadi kalau kita sampai melakukan hubungan badan, berarti kita menghianati Papa.”

“Iya Mam. Aku terima salah. Mohon Mamie maafkan aku yang gak tau diri ini.”

“Kamu tidak salah juga Chep. Mungkin mimpi - mimpimu itu yang bersalah. Padahal kamu tidak pernag mengundang mimpi - mimpi itu kan?”

“Iya Mam…”

Ucapanku terputus karena Mamie menyelinapkan tangannya ke celana pendek yang biasa kupakai tidur atau olah raga ini. Mamie langsung memegang kontolku yang memang tidak bercelana dalam ini. “Kontolmu ini sudah ngaceng sekali. Coba buka celanamu Chep. Mamie ingin lihat secara jelas,” kata Mamie sambil mengeluarkan tangannya dari balik celana pendek putihku.

Kuturuti perintah ibu tiriku yang cantik itu. Kupelorotkan celana pendekku sampai terlepas di kedua kakiku. Sehingga aku tidak bisa menyembunyikan lagi kontolku yang sudah ngaceng sekali ini.

Mamie spontan menangkap kontolku sambil menatapnya dengan mata terbelalak, “Wooow… kontolmu ini luar biasa gede dan panjangnya Chep. Ereksinya pun sempurna, keras sekali. Tidak seperti punya papamu yang ereksinya setengah - setengah.”

Kubiarkan saja Mamie memegang kontol ngacengku, seperti anak kecil yang punya mainan baru. Bukan cuma dipegang. Mamie pun menciumi kepala kontolku. Bahkan juga menjilatinya, sehingga nafasku mulai tidak beraturan.

Sambil menciumi dan menjilati moncong kontolku, Mamie pun menarik tanganku ke balik kimononya. Lalu meletakkannya di antara kedua pangkal pahanya.

“Mam… iii… ini punya Mamie?” tanyaku gugup.

“Iya… tapi memek mamie harus dijilatin dulu sampai basah. Karena kontolmu terlelu gede. Pasti sakit dan susah masuknya kalau tidak dijilatin dulu.”

Aku yang pernah melihat bokep cowok menjilati vagina cerweknya, spontan menyahut. “Iya Mam… aku siap untuk menjilati memek Mamie sampai basah.”

Mamie melepaskan kontolku dari genggamannya. “Ayo di kamarmu aja, biar lebih leluasa.”

Aku pun mengambil celana pendekku yang tergeletak di sofa, tapi tidak mengenakannya lagi karena tiada perintah dari Mamie. Setibanya di dalam kamar, Mamie menyambutku dengan pegangan di kedua tanganku. “Kamu mau melihat mamie telanjang kan?”

“Iiii… iya Mam,” sahutku tergagap dalam semangat yang berkobar.

“Chepi, mamie sangat sayang padamu. Karena itu mamie akan mengabulkan apa pun yang diinginkan pada ulang tahunmu yang kedelapanbelas ini,” ucap Mamie sambil melepaskan kimonoputihnya. Dan… sekujur tubuh Mamie langsung terbuka, karena tiada apa - apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mamie yang aduhai…

Inilah untuk pertama kalinya aku menyaksikan Mamie telanjang secara jelas. Tanpa terhalang kaca blur. Dan aku terkagum - kagum menyaksikan tubuh indah dan putih mulus itu, seolah menyaksikan keelokan bidadari yang baru turun dari langit.

“Kok malah bengong?” tanya Mamie sambil menarik pergelangan tanganku, sehingga aku terhempas ke atas dadanya yang dihiasi bukit kembar yang benar - benar seimbang dengan bentuk badannya. tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.

Mamie melepaskan kaus oblongku sambil berkata, “Kamu juga harus telanjang. Supaya kulit bertemu kulit…”

Setelah kaus oblong meninggalkan badanku, Mamie berkata lagi, “Sekarang lakukanlah apa pun yang kamu inginkan pada diri mamie…”

“Aku belum punya pengalaman, jadi… aku tidak tau harus mulai dari mana… karena takut salah…” sahutku sambil meraba - raba toket Mamie dengan tangan gemetaran.

“Kamu mau menyetubuhi mamie kan? “tanya Mamie sambil mencolek bibirku dengan telunjuknya.

Aku amati wajah cantik Mamie yang tengah tersenyum yang sangat menggoda itu. Lalu menyahut, “Mau sekali… tapi kalau ada yang salah mohon dibetulkan ya Mam.”

“Iya… nanti mamie ajarin. Sekarang jilatin dulu memek mamie sampai benar - benar basah oleh air liurmu ya.”

“Siap Mam…” sahutku sambil melorot turun, sehingga wajahku berada di atas memek Mamie yang begitu bersihnya, tiada jembutnya selembar pun. Hanya ada yang baru mau tumbuh di bagian atasnya.

Aku pernah memperhatikan foto - foto wanita telanjang. Pernah juga beberapa kali nonton bokep. Tapi baru sekali inilah aku menyaksikan kemaluan wanita dalam kenyataan, dalam jarak yang sangat dekat pula dengan mataku.

Kemudian Mamie merentangkan sepasang paha mulusnya sambil menunjuk ke arah memeknya yang sudah dingangakan. “Nih bagian - bagian ini yang harus dijilati. Ini kan bibir dalam, ini liang kecil untuk masuknya kontolmu nanti. Terus ini namanya clitoris, dalam bahasa kita biasa disebut kelentit atau itil.

“Iiii… iya Mam…” sahutku tersendat, karena nafasku semakin sulit diatur. Karena membayangkan kontolku akan dimasukkan ke lubang sekecil itu.

Lalu Mamie memberi petunjuk - petunjuk lain, agar aku mulai tahu bagaimana cara memperlakukan kemaluan perempuan.

Lalu aku pun mulai menjilati kemaluan Mamie. Mulai dari bagian dalam yang berwarna pink itu, sambil berusaha mengalirkan air liurku sebanyak mungkin, seperti petunjuk dari Mamie barusan. Begitu pula clitorisnya kujilati segencar mungkin.

Sementara itu Mamie mulai menggeliat - geliat sambil meremas - remas rambutku yang berada di bawah perutnya. “Iya Chep… iyaaaaa… itilnya jilatin lagi Chep… itilnya… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… aaaaaaaah… aaaaah… enak sekali Chepiiii… iyaaaa… iyaaaaa… itilnya jilatin terus Cheeepiii…

Cukup lama aku melakukan semuanya ini, sementara nafsuku semakin menggebu - gebu.

Sampai akhirnya Mamie mengepit kepalaku dengan kedua tangannya, sambil berkata terengah, “Su… sudah cukup Sayang. Sekarang masukin kontolmu…”

Dengan perasaan masih bingung, aku menjauhkan mulutku dari memek Mamie. Kemudian mendekatkan kontolku ke memek Mamie.

Pada saat itulah Mamie memegang leher kontolku, kemudian mengarahkan kepalanya ke mulut memeknya. Mungkin sedang diarahkan ke mulut liang yang tadi Mamie tunjukkan dan tampak kecil itu.

Ketika amukan birahiku semakin menggila, terdengar suara Mamie, “Ayo dorong… !”

Aku pun mendorong kontolku yang lehernya masih dipegang oleh Mamie.

Perlahan - lahan zakarku melesak ke dalam liang memek Mamie yang rasanya aduhai… luar biasa enaknya…!

Mamie pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya sambil berdesah… “Sudah masuk sayang… Sekarang mamie bukan hanya punya Papa, tapi juga punya Chepi…”

Entah kenapa, ucapan Mamie itu membuatku tersentuh… sangat tersentuh. Tapi aku tidak bisa menjawabnya, karena mulai melaksanakan petunjuk Mamie.

Ya, atas petunjuk Mamie, aku pun mulai mengayun kontolku dengan hati - hati di dalam jepitan liang memeknya yang begini uniknya buatku yang masih pemula. Terasa benar dinding liang memek Mamie ini bergerinjal - gerinjal lunak, seperti dilapisi bentuk seperti telur ayam yang masih berderet di dalam perutnya.

“Ayo… sekarang cepatin entotannya. Tapi jangan sampai lepas dari dalam memek Mamie ya …“bisik Mamie.

Aku menyahut terengah - engah, “Iiii… iyaaaa… duuuh… Mam… me… memek Mamie ini luar biasa enaknya.”

“Kontolmu juga luar biasa enaknya Sayaaaang,” ucap Mamie yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di bibirku.

Aku merasa bangga mendengar ucapan Mamie itu. Tapi mungkin aku terlalu menikmati semuanya ini. Maklum, inilah untuk pertama kalinya aku merasakan berhubungan sex.

Sehingga tak lama kemudian aku menggelepar di atas perut Mamie, sambil membenamkan kontolku sedalam mungkin, disusul dengan berlompatannya lendir kenikmatan dari moncong penisku.

Croooottttt… crooooottttt… crooooootttt… croooottttttt… crotttt… crooootttt…!

Lalu aku terkulai di dalam dekapan Mamie.

Mamie tersenyum dan mengecup bibirku. Lalu bertanya perlahan, “Udah ejakulasi?”

“Iya Mam… ternyata aku gak kuat lama - lama,” sahutku bernada kecewa.

“Nggak apa - apa. Biasanya memang begitu kalau baru pertama kali sih. Sebentar lagi juga pasti kontolmu ngaceng lagi,” sahut Mamie sambil mempererat dekapannya. Begitulah Akhir Cerita Ranjang Goyang Di Malam Jumat

Asiknya Selingkuh Dengan Sepupu Istriku

Bekerja sebagai auditor di perusahaan swasta memang sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi kalau ada masalah keuangan yang rumit dan harus segera diselesaikan. Mau tidak mau, aku harus mencurahkan perhatian ekstra.

Akibat dari tekanan pekerjaan yang demikian itu membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam terutama jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke untuk melepaskan beban.

Kadang di 'Manhattan', kadang di 'White House', dan selanjutnya, benar-benar malam untuk menumpahkan "beban". Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung karena istriku punya usaha dagang di sana.

Tapi lama kelamaan semua itu membuatku bosan. Ya..di Jakarta ini, walaupun aku merantau, ternyata aku punya banyak saudara dan karena kesibukan (alasan klise) aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Adit, sepupuku.

Kami pun bercanda ria, karena lama sekali kami tidak kontak. Mas Adit bekerja di salah satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia kasih tau kalau minggu depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut, mengantar logistik sekaligus membantu perbaikan salah satu peralatan rig yang rusak.

Dan dia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, karena rumah Mas Adit cukup jauh dari tempat kostku Aku di bilangan Ciledug, sedangkan Mas Adit di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, karena kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Adit untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya, Mbak Lala, senang kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya.

Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas Adit 40 tahun dan Mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi tidak beda jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya.

Terutama semenjak aku bekerja di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon.

Setelah makan siang, aku telepon Mbak Lala, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, karena Mbak Lala biasa pulang naik kereta.

"kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem", begitu alasan Mbak Lala. Dan jam 17.00 aku bertemu Mbak Lala di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan Mbak masih bisa berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama Lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan..! Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada montok Mbak Lala menyentuh dadaku.

Ahh..darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias. Rupanya Mbak Lala melihat perubahanku dan –ini konyolnya- dia mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Karena sempitnya ruangan, si "itong"-ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan.

Aku hanya bisa berdoa semoga "otong" tidak bangun. Kamipun tetap mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalgi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga "otong"-ku. Makin lama makin keras, dan aku yakin Mbak Lala bisa merasakannya di balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku bisa meremas dada dan pinggulnya yang montok itu.. oh.. betapa nikmatnya. Akhirnya sampai juga kami di Bekasi, dan aku bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala diam saja.

Sampai dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh..) dan kemudian makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan tak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.

"Ndrew, Mbak mau bicara sebentar", katanya, tegas sekali.

"Iya mbak.. kenapa", sahutku bertanya. Aku berdebar, karena yakin bahwa Mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.

"Terus terang aja ya. Mbak tau kok perubahan kamu di kereta. Kamu ngaceng kan?" katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.

"Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!"

"MMm.. maaf, mbak..", ujarku terbata-bata.

"Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. aku tidak tahan"

"Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!" bentak Mbak Lisa.

"Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak ngulangin lagi"

"Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak." Sahutnya. Rupanya, tensinya sudah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran. Dia memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya.

Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun segera menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah karena lelah atau sejuknya ruangan, atau karena apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Lala juga sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku.

Saat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedikti tersingkap.

Mbak Lala berkulti putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku pun timbul..

Perlahan, kubelai paha itu.. lembut.. kusingkap daster itu samapi pangkal pahanya.. dan.. AHH.. "itong"-ku mengeras seketika. Mbak Lala ternyata memakai CD mini warna merah.. OHH GOD.. apa yang harus kulakukan..

Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, dan CD itu nyaris seperti G-String. Aku bener-bener terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati, karena Mbak Lala istri sepupuku sendiri, yang mana sebetulnya harus aku temani dan aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.

Namun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan m3meknya berwarna kemerahan. Aku bingung.. harus kuapakan.. karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan.. tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati m3mek itu dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun.

Sllrrpp.. mmffhh.. sllrrpp.. ternyata memeknya lezat juga, ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit, sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati aroma m3meknya.

Entah setan apa yang menguasai diriku, tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah "otong"-ku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke m3mek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku hasrus ekstra hati-hati supaya dia tidak terbangun. Akhirnya "otongku"-ku berhasil masuk. HH.. hangat rasanya.. sempit.. tapi licin.. seperti piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau karena ludah bekas jilatanku.. entahlah.

Yang pasti, kugenjot dia.. naik turun pelan lembut.. tapi ternyata nggak sampai lima menit. Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott.. ccrroott.. sseerr.. ssrreett.. kumuntahkan maniku di dalam m3mek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.

"Mmmhh.. kok dicabut tititnya.." suara Mbak Lala parau karena masih ngantuk.

"Gantian dong..aku juga pengen.."

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

"Wah.. celaka..", pikirku.

"Ketahuan, nich.." Benar saja! Mbak Lala mambalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adit, melainkan aku, sepupunya.

"Kurang ajar kamu, Ndrew", makinya.

"KELUAR KAMU..!"

Aku segera keluar dan masuk kamar tidur tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah.. takut.. malu.. apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah.. terbayang jelas di benakku acara Buser.. malunya aku.

Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa "otong"-ku seperti lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.. dan..

"Mbak Lala..jangan", pintaku sambil aku menarik tubuhku.

"Ndrew.." sahut Mbak Lala, setengah terkejut.

"Maaf ya, kalau tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng lagi."

"Terus, Mbak maunya apa?" taku bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi dia marah-marah, sekarang kok.. jadi begini..

"Terus terang, Ndrew.. habis marah-marah tadi, Mbak bersihin m3mek dari sperma kamu dan disiram air dingin supaya Mbak tidak ikutan horny. Tapi.. Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu. Imut, tapi di meki Mbak kerasa tuh." Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya penisku seketika sehingga aku tersentak dibuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke kerongkongannya.

Secara refleks, Mbak naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Lala sudah melepas CD nya. Aku melihat m3meknya makin membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku..

"SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh" Mbak Lala merintih menahan nikmat. Akupun menikmati m3meknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.

"Itilnya.. dong.. Ndrew.. mm.. IYAA.. AAHH.. KENA AKU.. AMPUUNN NDREEWW.."

Mbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. M3meknya makin memerah dan makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada yang mendesak penisku, seolah mau menyembur.

"Mbak.. mau keluar nih.." kataku.

Tapi Mbak Lala tidak mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin tidak tahan dan.. crrootts.. srssrreett.. ssrett.. spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

"Ndrewww.. kamu ngaceng terus ya.. Mbak belum kebagian nih.." pintanya.

Aku hanya bisa mmeringis menahan geli, karena Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan Mbak Lala. Jika tadi langsung lemas, ternyata kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir m3mek Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan cairan m3meknya, aku jadi mudah terangsang lagi.

Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan melepaskan dasternya.

"Copot bajumu semua, Ndrew" perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Segera Mbak Lala berlutut di atasku, dan tangannya membimbing penisku ke lubang m3meknya yang panas dan basah. Bless.. sshh..

"Aduhh.. Ndrew.. tititmu keras banget yah.." rintihnya.

"kok bisa kayak kayu sih..?"

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerkan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat m3meknya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang, rakus. Mbak Lala makin keras goyangnya, dan aku merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala makin cepat, cairan m3meknya membanjir, nafasnya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya tertahan.

"MMFF.. SSHSHH.. AAIIHH.. OUUGGHH.. NDREEWW.. MBAK KELUAARR.. AAHHSSHH.."

Mbak Lala menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah diraihnya. M3meknya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga aku merasakan penisku seperti dipelintir. Dan akhirnya Mbak Lala roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan. Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku masih mampu bertahan..

Tak disangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.

"Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi.." pintanya setengah memaksa.

Apa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir m3mek dan itilnya. M3mek Mbak Lala mulai memerah lagi, itilnya langsung menegang, dan lendirnya tampak mambasahi dinding m3meknya.

"SShh.. mm.. Ndrew.. kamu jail banget siicchh.. oohh.." rintihnya.

"Masukin aja, yang.. jangan siksa aku, pleeaassee.." rengeknya.

Mendengar dia merintih dan merengek, aku makin bertafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke m3meknya yang ternyata sangat becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi.

Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar. Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali..

Gerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Lala makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang m3mek itu makin becek, terlihat lendirnya meleleh dengan derasnya, dan segera saja kusambar dengan lidahku.. direguk habis semua lendir yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di m3meknya.

Kupandangi m3mek itu lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari m3meknya. Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan ssrr.. ceerr.. aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari m3meknya.

"Mbak.. udah keluar?", tanyaku.

"Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang.. masukin k0ntol kamu.. aku hampir sampaaii.." erangnya.

Rupanya Mbak Lala sampai terkencing-kencing menahan nikmat.

Akibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari penisku, dan segera saja kugocek Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat aku mampu, sampai akhirnya..

"NDREEWW.. AKU KELUAARR.. OOHH.. SAYANG.. MMHH.. AAGGHH.. UUFF..", Mbak Lala menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.

Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di penisku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku..

"Mbak.. aku mau muncrat nich.." kataku.

"Keluarin sayang.. ayo sayang, keluarin di dalem.. aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi.." pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.

Seketika itu juga.. Jrruuoott.. jrroott.. srroott..

"Mbaakk.. MBAAKK.. OOGGHH.. AKU MUNCRAT MBAAKK.." aku berteriak.

"Hmm.. ayo sayang.. keluarkan semua.. habiskan semua.. nikmati, sayang.. ayo.. oohh.. hangat.. hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh.." desah Mbak Lala manja menggairahkan.

Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.

"Ndrew, makasih ya.. kamu bisa melepaskan hasratku.." Mbak Lala tersenyum puas sekali..

"He-eh.. Mbak.. aku juga.." balasku.

"Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu."

"Waahh.. kurang ajar juga kau ya.." kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.

"Aku tidak nyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang impian kamu jadi kenyataan kan?"

"Iya, Mbak. Makasih banget.. aku boleh menikmati semua bagian tubuh Mbak." Jawabku.

"Kamu pengalaman pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki selain Mas Adit. tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Adit juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi join sama masmu itu" sahutnya.

"Terus, kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?" aku bertanya.

"Ini pertama kalinya aku sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak jijik?"

"Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus jijik? Justru aku makin horny.." aku tersenyum.

Kami berpelukan dan akhirnya terlelap. Kulihat senyum tersungging di bibir Mbak Lalaku tersayang.. Begitulah Akhir Dari Cerita Asiknya Selingkuh Dengan Sepupu Istriku


Hadiah Dari Bosku Yang Cantik

Begitulah awal karirku sebagai sekretaris bossku. Tentunya aku mendapat kenaikan gaji dan berbagai macam fasilitas. Terutama aku mendapat kewenangan lebih juga. 

Hari demi hari aku selalu menemaninya disaat pergi k luar kota. Menginap dalam satu hotel dan satu kamar. Bossku selalu saja ingin bercinta. Tak bosan2nya ia menggerayangi seluruh tubuhku. Rasanya tidak ada satupun bagian lekuk tubuhku yang terlewati dari jamahan bibir dan lidahnya. Namun selama itu juga aku masi tetap perawan.

Pada suatu malam. Setelah kami bergumul. Dipeluknya aku. Telapak tangannya memijat2 vaginaku dengan lembut.

"Dewi...saya ingin mengatakan sesuatu"

"Iya mas....ada apa?"

Saat sedang berduaan begini aku memanggil dia dengan sebutan"mas" karena permintaannya agar tak ada lagi jarak diantara kami.

"Jangan marah ya...aku ingin merasakan ini. Aku ingin sekali...." 

Iya mengatakan hal itu seraya menggenggam vaginaku lebih erat . Aku tau maksudnya.

"Mas mau?"

"Iya dewiku sayang..."

Aku tatap matanya. Tatapan matanya bukan lagi sebagai atasan terhadap bawahan. Aku tau dia menyayangi ku. Walau tak pernah diucapkannya secara terang-terangan. Taku rasakan dari sikapnya selama ini. Kucium bibirnya. Kubelai pipinya.

"Mas Baskoro sayang......nikahi aku walau cuma nikah siri".

Lama ia termenung mendengar jawabanku. Dipeluknya dan disandarkannya kepalaku didadanya. Dibelainya punggungku. Hhhhmmm.....aku begitu nyaman bila diperlakukan seperti ini. Kadang aku bisa terlelap.

"Setelah kita nikah siri?"

Tanyanya lagi.

"Kita jalani hidup layaknya suami istri. Percaya padaku mas. Aku tak akan mengganggu dan mencampuri keluarga mas Baskoro".

Dipeluknya diriku lebih erat.

"Tentunya kamu harus resign dari kantor "

"Ya iya dooong...masku sayaaaang...". 

Aku cubit pinggangnya dia meringis kesakitan dan aku berusaha mengelak. Terjadilah pergumulan saling cubit....dalam keadaan tubuh kami masih telanjang. Akhir dari segala itu tubuhku dicumbunya lagi. Setiap gigitan dan kecupannya menjalari bagian tubuhku. 

Beberapa hari kemudian setelah segalanya dipersiapkan. Pernikahan dibawah tangan itupun berlangsung didepan orangtuaku dikampung. Suamiku membelikan banyak perabotan. Dari mulai lemari pakaian,sofa, kulkas, tempat tidur. Orangtuaku tampak senang dan kami kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan kembali, suamiku tampak riang sekali. Senyum sumringahnya tak pernah lepas dari bibirnya.

Tiba di apartemen bossku yg kini sudah menjadi suamiku membopong dan merebahkan diriku diranjang.

"Aku bahagia sayang"dikecupnya keningku.

"So sweet banget siiih....aku juga suamiku sayang..." Jawabku seraya memeluknya. "Cium aku dooong...koq udah resmi malah dianggurin siihhh..."aku menggodanya.

Diciumnya bibirku...penuh kelembutan. Ada perasaan lain dalam diriku saat ini setelah aku menjadi istrinya. Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya. Kami saling cium dan raba seperti biasanya. Tak terasa kami sudah dalam keadaan telanjang. 

Baca Juga : 

Diriku terlentang dan dia duduk persis diselangkanku. Dibelainya pahaku... dikecupnya.... dipijjatnya bagian tubuhku dari pundak hingga pinggulku...kami bergumul lagi....setiap kecupan bibirnya dan lidahnya menelusuri hingga terhenti pada vaginaku yang mulai basah. Bibirnya yang telah basah menyusuri daging bibir vaginaku.

"Saaaayaaaagkuuuu..... jilat semuanyaaaaa..... kenyot2 lebih kerasaas lagiii.... sssshhh....aaahhh...."tubuhku bergelinjang dengan liar.... kutekan kepalanya.... kembali aku menjerit...."aaaaahhhh.... nnngghhkk.... oooooowwwhhh.... sekaraaaaang sayyy....aaang..... sekaraaaaang...."

Mas bas mengambil posisi diatasku. Diarahkan penis besar itu tepat dibibir vaginaku. Kugenggam dan kutuntun untuk segera masuk.

"Maaaasss.... aaakkkhh.....saaaakiiiit.... aaaaahhhh....".

Begitu besar ukuran penisnya hingga tak cukup masuk 

"Sakit ya....aku cabut yaa...."

"Jangan...biarin dulu... pelan2 aja ya..."

Dicobanya lagi....perlahan mulai masuk kedalam liang vaginaku. Aku menjerit...kucengkeram punggung mas Baskoro....baru setengah masuk...mas bas mulai menggoyangkan pinggulnya keluar masuk perlahan. Rasa sakit ku terobati dengan nikmatnya gesekan penisnya. Pahaku terangkat. Kujepitkan dipinggangnya ...kutekan...dan...

"Aaakkkhhh..... maaaasss... sssshhh..... oooowwwhhh...enak... maaaasss.....pelan pelan tapinya yaa"

"Iyaa sayang....".

Diciumnya leherku sambil terus digenjot pinggulnya. Aku merasakan nikmat luar biasa....aku tak pedulikan sakit ini.... yang kutahu adalah menikmati setiap penisnya.... entah berapa kali aku menjerit..... kugigit punggung mas Baskoro.... sampai pada suatu detik aku merasakan semburan cairan hangat menerjang liang vaginaku

"Aaaaaawwww.... aaaahhhh...... maaaasss.....ennn...nnaaak....haaannggaaat....". Tubuhku mengejang.  Kujepitkan otot2 vaginaku. Tubuh mas Baskoro pun  terasa mengejang sejenak.

"Sayyyyaaaannnggg.... aaaaahhhh....." Leherku digigitnya. Tangannya memeluk erat tubuhku..... tubuhnya berkeringat. Untuk sejenak mas Baskoro masih diatasku. Diciumnya bibirku... diusap2kannya keringat didahiku. Iya tersenyum.

"Terimakasih ya sayang.... akhirnya kita dapatkan kenikmatan ini.... mmmmm....vagina kamu benar-benar bikin aku melayang...aku merasakan punyaku diremas...dipijit... tersedot....kamu luar biasa sayangkuuuuu...."diciumnya aku lagi....aku membalas ciumannya dengan menekan pantatnya. Kurasakan penisnya mulai mengendur.

"Aku yang berterima kasih mas. Mas dengan sabar menunggu malam ini. Aku yakin kalo mas gak sayang aku,gak mungkin mas bas mau menunggu begitu lama" kukecup kedua pipinya. 

"Cabut ya..."

"Iya... pelan pelan ya".

Meskipun penisnya mulai mengecil tapi tetap saja menimbulkan efek perih. Dicabutnya perlahan seraya aku cengkeram pundaknya.

Mas Baskoro terlentang disampingku. Kubelai dadanya. Matanya menatap langit-langit kamar. Aku bersihkan sisa2 cairan di vaginaku dan penisnya. Bercak noda darah bercampur cairan mani mas bas berceceran dikain putih yang telah kusediakan sebelumnya untuk alas agar sprei tidak kotor oleh darah perawan ku .

"Aku ambilkan minum ya".

"Iya boleh. Jangan air es say. Yang biasa aja"

Aku ambilkan minum dan diteguknya sampai habis. Kemudian kurebahkan tubuhku disampingnya. Posisiku miring menghadapnya. Kakiku yang satu kuletakkan diatasnya... tepatnya pahaku persis diatas penisnya. 

Akhirnya kami tertidur dalam keadaan telanjang.

Menjelang pagi aku terbangun. Namun tak kudapati mas Baskoro didampingku. Rupanya dia di kamar mandi. Beranjak dari ranjang aku menuju kamar mandi. Iya seda menikmati curahan air shower. Aku berjalan perlahan dan kupeluk dari belakang. Ia terkejut karena aku telah berada dibelakangnya. Direngkuhnya diriku sembari diciumnya bibirku. 

"Aku menginginkan dirimu setiap waktu sayaaaaaang....."

"Akupun begitu sayangkuuuuu..... miliki aku semuanya.... nikmati aku sayaaaaaang....."

Kami bercinta lagi. Kali inidibawah siraman air shower yang hangat. Disandarkan diriku pada dinding... sejurus kemudian dinikmatinya vaginaku lagi.....tak pernah merasa puas bila belum mengoral vaginaku. Akupun merasa senang sekali bagaimana ia mengoralku. Yaaa...salah satu foreplay ya aku suka. Iya pun menikmati saat aku kukum penisnya. Kali ini ia duduk diatas closet. Penis yang besar berurat...tegak menantang....aku berjongkok dihadapannya untuk segera mengulum penisnya. Tubuh mas Baskoro yang tegap...begitu indah kupandangi....dan kunikmati penisnya.

Mas Baskoro memintaku untuk segera memulainya.

Aku berada diatasnya kuarahkan penis besar itu. Masih terasa perih. Namun kutahan karena berbarengan dengan rasa nikmat itu. Gerakanku perlahan naik turun. Payudaraku dijilati.... tangannya meremas pantatku membantu naik turunnya tubuhku.  Aku tak kuasa menahan rasa nikmat ini. Saat rasa itu datang, kugigit2 bibirnya... lehernya... pundaknya.... jeritanku....desah nafasku.....memeluk nya disaat itu pula kenikmatan luar biasa. 

Begitulah peran yang aku jalani saat ini. Dari hanya seorang karyawan admin kini menjadi istri siri boss. Aku resign dari kerja dan diberikannya aku usaha laundry dilantai dasar apartemen sebagai pengisi waktu luangku. Aku tetap mengabdi sebagai istri mas Baskoro. Begitulah Akhir Dari Cerita Hadiah Dari Bosku Yang Cantik


SPG Yang Menjadi Wanita Panggilan

Ngobrol dengan teman sekantor pas siang2 sambil ngopi emang tiada dua rasanya. Tertawa dan canda serta saling ejek namun tak ada rasa marah. Itulah yang membuat kami semakin akrab. Hingga habis berbatang batang rokok pun tidak berasa. 

Sedang asyik-asyiknya ngbrol datang beberapa SPG menawarkan merk rokok terbaru.

Seragam terusan, sebatas beberapa centi diatas lutut. Cantik2 dan putih mulus tentunya.

Ada satu yang membuatku terpesona. 

"Mbak...siapa namanya..?"

Padahal aku sudah baca pada tulisan diatas dadanya. Basa basi lah.

"Rini om".

"Berapa satu sloop ini?". Sedikitpun aku tak tertarik dengan rokoknya.

"Delapan puluh ribu om. Nnti saya kasih bonus satu bungkus. Murah om mumpung lagi promosi".

"Bonusnya kamu aja ya..gimana?"

"Iiih...om bisa aja deh".

" Beneran nih..kamu aja ya...saya beli satu sloop. Bonusnya buat kamu..tapi aku minta nomer WhatsApp kamu ya...".

"Buat apa nomor WhatsApp saya om?".

"Ya nanti kalo aku pesen lagi gimana? Temen2 ku banyak nih".

"Iya deh om".

Aku membayarnya satu sloop itu dan kubagikan pada teman2ku.

"Nanti pulang jam berapa?".

"Gak tentu om. Kadang sampe malam".

"Iya deh.. lanjut lagi deh.. semoga laris ya...".

"Makasih om...". Ia melanjutkan mengunjungi kantor lain bersama teman2nya.

Malam hari setibanya aku dikostan. Aku ingat Rini. 

"Malam dik Rini...".

Lama tidak ada balasan. Sekitar sepuluh menit dia membalas.

"Malam...ini siapa?".

"O iya maaf aku lupa ngenalin diriku. Aku tadi siang yang beli rokokmu satu sloop "

"Yang mana ya? Soalnya banyak sih yang beli satu sloop ".

"Waaah.. laris juga ya dagangan kamu. Ini aku yang kantor disamping restoran jepang itu. Aku tadi pake baju biru celana hitam. Panggil aja aku Heri".

"Eehh...iya..maap om aku lupa...ada apa om? Udah abis ya rokoknya? Mau pesan lagi?"

"Gampang itu sih. Kamu lgi dimana sekarang?".

"Masih dikantor om lagi bikin laporan".

"Ooowh....udah malam masih kerja aja. Boleh aku jemput gak?"

"Mmmmmm... ntar ngerepotin om Heri".

"Gak koq ..sebutin aja dimna kantormu".

Disebutkan alamatnya,kukira tidak terlalu jauh dari sekitar kantorku tadi. 

Singkat cerita aku sudah didepan kantornya. Aku standby disebuah minimarket.

"Aku di minimarket depan kantor ya"

"Ya. Sebentar ya".

Tidak berapa lama dirinya tampak menyeberang jala. Sudah berganti busana, dengan setelan jeans biru dan kaos putih. Seksi sekali.

Didalam mobil.

"Mau langsung pulang apa mau refreshing dulu?" Tanyaku memancing reaksinya sambil menggenggam tangannya.

"Terserah om deh aku ikut aja" 

"Stay dengan aku malam ini ya"

Dia tidak menjawab. Mau jawab iya mungkin malu .

Aku arahkan kesebuah hotel pada sebuah ruko. Sebelumnya aku mampir ke minimarket untuk membeli cemilan dan minuman ringan.

Setibanya dikamar direbahkan tubuhnya diranjang. Dilepaskan sepatunya. Aku ambilkan minuman kaleng yang dingin. Kusodorkan padanya.

"Capek yaa...".

"Banget om...nih betis udah kayak pemain bola keras banget".

"Iya...nnti om pijitin yaa..."

"Emang om bisa mijit...?"

"Ya bisa dong...mau pijit enak apa pijit nikmat...?"

"Iiiih...om nih...".

Kuperhatikan lagi saat dia minum langsung dari kaleng. Bibirnya tipis. Menggairahkan sekali untuk dicium. Kugenggam lagi tangannya. Dia masih asyik dengan minumnya.

"Kenapa om.. ngeliatin Rini terus...hati2 lho... ntar lama2 jadi suka"

"Aku sudah suka denganmu saat pertama kali ku melihatmu. Coba kamu kesini deh".

Aku yang sejak dari tadi duduk disebuah sofa kecil memanggil dirinya. Dengan sikap manja ia menghampiri. Duduk diatas pahaku...kepegang pinggulnya yang ramping.

"Ooom...aku belum bayar kostan...". Bicara begitu sambil bibirnya dimancungin.

"Iyaaa...nanti om bayarin. Malam ini nginep disini. Kita nikmati berdua".

Diciumnya bibirku... seraya dadaku dirabanya... dilepaskan satu persatu kancing bajuku...diciumnya dadaku yang sudah terbuka. Aku masih memegang pinggulnya... kuarahkan tanganku pada pantatnya... begitu lihainya bibirnya. Beberapa saat kemudian.. dilepaskan kaosnya...mmm... teteknya tidak terlalu besar...namun aku yakin dibalik bh hitam itu... sesuatu yang ingin aku nikmati. Kulepaskan pengait bhnya yang ada didepan...maka menyembul lah tetek itu ... putingnya masih kecil ..dengan lingkaran coklat disekelilingnya. Aku jilati... bibirku...melahap semua yang ada.... kutinggalkan beberapa bekas warna merah...

"Aaaahh ...ooooomm....ssshhh....aahh.....riniii..sukaaa oooomm...."

Desahannya mulai terdengar. Ia berdiri... ditanggalkannya celana serta cd-nya sekaligus...pinggul yang ramping....perut yang rata....tetek yang cukup ukurannya menurutku.... dipelorotkannya juga celanaku....aku yang masih bersandar pada sofa dinaikinya lagi.... disodorkan teteknya...aku jilati lagi. Sedangkan tanganku mengarah pada vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang lembut.

Vaginanya mulai basah.  Kumasukkan jari tengah dan telunjuk serta kumainkan didalamnya. Ia semakin menjerit....hingga  pundakku digigitnya.

"Aaaww....sakit dik...pelan pelan dong....".

"Abisnya...tangan om nakal sih...Rini balas yaaa...awas....rasain nih..".

Ia berjongkok diantara dua pahaku...tentu saja aku tau apa yang akan dilakukannya. Beberapa saat dimainkan kontolku... dikocoknya....diusapkan ujung jari pada helm kontolku...aku merasakan... mmmmm... tidak lama setelah itu.... kontolku sudah berada dalam rongga mulutnya.,. dijilat.... dikenyot.... digigit batangnya.....permainan lidahnya pada kontolku itu...

"Aaaahhh....riniiii....ssshhh....hhhhmmmm.... teruskaaaaannn sayaaaanng.... ooowwhh".

Bagaikan ia sedang makan es krim.... lidahnya....menyapu dari pangkal batang kontolku....terus hingga kepalanya...dan dimasukan lagi... lidahnya bermain-main didalam..... ditekannya hingga tenggorokan....aku remas rambut panjangnya..... kunikmati semua itu.

"Gimana om pembalasanku... makanya jangan nakal yaaa...."diciumnya bibirku seraya dikangkangi selangkanganku untuk mengarahkan kontolku dalam vaginanya. Ia mendesis sebentar. Perlahan mulai dengan goyangan maju mundur. Wajahku yang tepat berada depan teteknya  tentu tak membiarkan benda itu aku anggurin. Menjilati tetek yang tidak begitu besar itu... sesuatu sekali....desahan panjangnya makin memburu....jeritan...lenguhan... dipeluknya diriku.... matanya terpejam seakan menahan sakit.... namun nafasnya menggambarkan kenikmatan luar biasa.

"Ooooommm... sayaaaaaang.....kontol oom...ennn..nnaaak bang..ngeet.... ooowwhh.....teruuus....jilat tetek Rini ooom....ssshhh...aaahh..."

Gerakannya yang naik turun menimbulkan suara2....plok....ploook.....kuremas pantai... sesekali kutepuk....plaaak....pllaaak....tidak sampai disitu...kumainkan jariku pada vaginanya sementara dia terus beraksi....

"Oooomm.....rinniii....mau keluuaaarr.....oooom....aaahhhh..."dirapatkan kedua pahanya... bibirnya mendesis ditelingaku...nafas yang hangat oleh kenikmatan. Keringat pada teteknya aku jilati.

"Rinnii....om jugaaaaa...."

Dilepaskan kontolku...dan dengan sigap dilahapnya batang kontolku..... creeet.... creeet.... beberapa tembakan menyembur dalam rongga mulutnya. Sebagian m mengalir diantara bibir....ada yg ditelannya... dijilatnya lagi....tak berhenti hingga kontolku benar-benar layu. Diambilnya handuk hotel dan dibersihkan kontolku dan mulutnya.

Rini kembali duduk diatas pangkuanku.

"Kontol om enak...pejunya juga...gurih2 asin... Rini suka om"

"Kamu udah bikin aku tak berdaya. Memek kamu juga... belajar dimana koq bisa jepitnya kayak gitu..."

"Iiih....rahasia dooong...om sayangkuuuuu.." 

Direbahkan tubuhnya pada tubuhku...detak nafasnya mulai reda. Beberapa saat dilepaskan lalu ia naik keranjang tidur dengan posisi miring dengan kaki yang ia lebarkan. Tampak dariku  sudut sempit vaginanya yang merah. Diam2 aku ambil ponselku dan kufoto beberapa gambar bagian yang indah itu untuk koleksi pribadi ku. Setelahnya kuhampiri dirinya dengan tidur dibelakangnya. Tanganku kuselipkan pada vaginanya dan dijepitnya dengan pahanya.

Kami tidur istrahat setelah tenggelam dalam kenikmatan itu.

Menjelang pagi aku terbangun merasakan kontolku mulai mengeras lagi. Pergumulan hasrat birahi penuh dengan gelora. Seluruh tubuhku diciumnya....kuluman bibir pada kontolku makin dahsyat.... goyangan pinggulnya.... berbagai macam gaya ia kuasai.... hingga pada posisi dia diatas namun membelakangi.... kontolku bagai diputar2nya.... lolongan panjang disertai dengan gigitan pada pada pundakku saat aku hujamkan kontolku untuk semburan peju dalam vaginanya....aku terkulai.... tubuhku bagai tak bertulang.

Setelah segalanya berakhir,tidak lupa aku transfer ke rekening nya.

"Om.... terimakasih ya.... jangan kapok ama Rini...maaf ya om kalo Rini gak sopan tadi..."dipeluknya diriku yang masing-masing masih telanjang.

"Maap apa sih....gak ada yang salah koq...aku suka dik Rini. Makasih ya,kamu udah memberikan kepuasan buat aku"

Kami berpelukan lagi....dan kemi mandi bersama. Kami sepakat untuk bertemu dan bercinta lagi dalam kesempatan yang akan datang. Begitulah Akhir Cerita SPG Yang Menjadi Wanita Panggilan


Kisah Asmara Di Villa Tepi Pantai

Seorang kebangsaan Norwegia. Mengendarai BMW merah dengan kap terbuka menyusuri perbukitan Jimbaran. Angin pantai dan beberapa ekor burung melintas diantara gugusan bukit nan hijau. 

Mobilnya terhenti pada sebuah pintu kayu diapit gapura batu. Sebuah sanggar tari. Beberapa orang menyambutnya dengan senyum.

"Good evening sir. Looking for someone sir?".

"Saya mau bertemu dengan Savitri" jawabannya dengan bahasa Indonesia cukup fasih .

"Ooooo... bahasa Indonesia anda bagus sekali. Anda datang pada saat yang tepat. Sebentar lagi dia keluar. Kebetulan kelas telah selesai".

"Baik. Terimakasih".

"Terimakasih kembali. Silahkan menunggu tuan".


Tidak berapa lama seorang wanita muncul dari balik pintu. Tinggi, dengan tubuh ramping. Berbalut kain batik sepinggang dan kaos putih. Dibiarkan rambut panjangnya terlepas terurai ditiup angin sore. Setangkai bunga terselip ditelinganya. Dari kejauhan senyumnya menyambut kehadiran Hans.

"Kau sudah lama menunggu?". Seraya disandarkan tubuhnya dengan manja pada diri Hans.

"Tidak begitu lama. Bahkan rokokku pun belum habis". Mereka beradu bibir.

"Kau akan aku kemana?"

"Kau ikut saja. Nanti juga tau. Kau pasti suka".

Dalam perjalanan mereka melakukan perbincangan. Sesekali tawa renyah Savitri membuat Hans memperhatikan begitu lama. Bagaimana tidak, seorang gadis Indonesia dengan kulit sawo matang yang menurutnya begitu eksotik. Hidung yang tak terlalu mancung,sorot mata yang selalu berbinar saat bicara dan tersenyum. Hans begitu terpukau saat pertemuan pertamanya dengan Savitri pada sebuah pagelaran seni di Madrid dalam event pertukaran budaya dan seni. Tiga bulan kemudian Hans menemuinya langsung ke Indonesia.

"Aku akan mengunjungimu beberapa bulan yang akan datang" ucapnya saat melepas Savitri kembali ke Indonesia.

"Kau terlalu baik untukku selama aku di Madrid ini. Tentu saja aku akan menunggu".

Indonesia.

Sebuah cafe kecil dengan cahaya redup. Mereka melantai. Direbahkan kepalanya di dada Hans. Sesekali mereka berciuman. Hampir tiga hari itu mereka lakukan yang diakhiri dengan pergumulan percintaan disebuah kamar hotel. 

"Kami sedang mempersiapkan kembali untuk pementasan di Oslo" Savitri membuka percakapan setelah mereka menikmati malam dibawah terang bulan purnama.

"Kapan?"

"Tiga bulan kedepan"

"Itu artinya kau bisa berkunjung ke tempatku. Sebuah desa kecil. Kurasa,aku nanti yang akan menunggumu disana".

Jendela kaca yang separuh terbuka membuka jalan angin untuk menghangatkan ruang kamar hotel. Sengaja lampu yang dimatikan. Membuat tubuh mereka berkeringat kembali. Dalam lenguhan... desahan panjang Savitri... mencengkeram punggung berotot Hans. Lelaki itupun tak kuasa kenikmatan itu menahan tubuhnya hingga membungkuk. Tubuh Savitri yang kecil itu tertutup dibawah tubuh Hans yang kekar dengan bahu lebarnya.  Savitri seakan mendapatkan cinta sejatinya sepeninggal Hermawan yang lebih memilih Julia. 

Villa tepi pantai.

Savitri berdiri disisi jendela. Pandangannya kearah laut lepas. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Dengan kain jarik batik yang melilit sebatas bawah ketiaknya, itu memberikan kesan menawan bagi Hans. Dihampiri dan dipeluknya dari belakang. Dikecup leher jenjangnya diusapkan keseluruh bagian leher Savitri. Savitri hanya diam. Tak ada reaksi. Dingin. 

"Ada apa honey...?".

Savitri membalikkan badannya. Dipandanginya lelaki bule itu. Mata yang biru,garis tegas pada dagunya yang persegi. Diusapkan jarinya didada Hans.

Baca Juga : 

"Honey...jangan kau bawa aku terlalu jauh kedalam petualanganmu. Kau tau, budaya kita berbeda".

"Heeey.....don't worry about that". dengan bahasa gaya ala ala barat.!!

Direngkuhnya tubuh Savitri dalam dekapannya. "Aku tak akan pernah meninggalkan kamu. Seorang petualang akan mengakhiri kisah pencariannya bila sudah menemukan harta karun terindahnya dan akan berlabuh pada dermaga terakhirnya. Aku akan menikahimu. Kita akan menikah di tempatku saat kau berkunjung ke Oslo" digenggamnya kedua pipi Savitri, diusapkan kedua ibu jarinya pada kedua matanya. Savitri menggeliat mengikuti gerakan tangan Hans.

"Is that true honey?" Menggunakan bahasa asing.

Didekatkan wajahnya dan dikecupnya bibir Savitri. Lembut. Mereka beradu bibir bagian luar hingga Savitri membuka bibirnya. Ciuman mereka semakin mengganas. Saling gigit bibir. Beradu lidah.

Perlahan tangan Hans melepaskan kaitan jariknya dan terlepas.  Tubuh Savitri yang ramping dengan buah dada indah. 

Cahaya matahari sore..menyelinap diantara jendela. Angin pantai membasuh kedua tubuh yang sudah bertelanjang tanpa sehelai benangpun. 

Hans masih mencumbui tubuh Savitri...setiap lekukkannya tak luput dari serangan bibir dan lidahnya. Pagutan2 yang menyisakan warna merah...dari leher....buah dadanya... pinggang...serta pangkal pahanya...dan kini bibir dan lidahnya menyeruak masuk dalam lubang vaginanya....melumat habis gundukan bibir vaginanya... lidahnya menyapu bersih setiap lendir itu menetes keluar.

"Oooooowwwhhhh.....honeeeyy...do it again honeey.....yyyeaahh....ssshhh aaahhhhh.....lebih dalam lagiiiii..... nnngghhkk....". 

Pinggulnya terangkat saat jari tengah Hans ikut bermain dalam vaginanya. Terlonjak tak karuan..... menjerit ditengah desiran ombak.... langit mulai gelap.

Hans berhenti sejenak dan mengamati bagaimana indahnya tubuh Savitri yang mulai berkeringat dengan nafas terengah-engah.

Kamar tanpa cahaya lampu. Namun cukup menggambarkan warna kulit Savitri yang eksotik.

Mereka beradu bibir lagi.

"Honey...aku menginginkannya sekarang...".

Dengan posisi merangkak. Tampak dari belakang vaginanya yang memancing Hans untuk menjilatinya lagi. Sesekali digigitnya dua buah daging pantatnya. Sejurus kemudian diarahkan penisnya. Gerakan maju mundur menimbulkan suara2.... Savitri terengah-engah kembali.... umpatan2 kotor keluar dari mulutnya. Akhirnya dirinya roboh tengkurap. Namun Hans masih menghujamkan penisnya semakin dahsyat.

"Ooo....my God.... honeeeyy....yeeaah....sssshhh... aaahhh.... ooowwhh...." (Dengan Gaya Seperti Film Barat) Asikkk

Hingga pada momen ditelungkupkan wajahnya bantal dan berteriak....Hans menciumi bibirnya dari belakang....saling gigit.

Hans merubah posisinya Dengan mengangkangi Savitri. Dibuka lebar-lebar pahanya...dan....blesssss..... kejantanan Hans masuk untuk kedua kalinya. Gerakan maju mundur....kali Savitri yang semula terbuka lebar kini dikaitkan dipinggang Hans. Ditekannya... digoyangkan pantatnya....

"Honeeeyy.....i am coomiiiing....."

 Semburan cairan hangat dan  kental membanjiri liang vaginanya. Diikuti dengan lolongan  panjang Savitri disertai lonjakan tubuhnya.

Deru nafas Hans naik turun diatas Savitri. Cinta dan keringat mereka menyatu. Diakhiri dengan ciuman panjang.

Tubuh Hans rebah disamping Savitri. yang sedang lemas lunglai dan angin pantai tetap berhembus dengan sekejap mata mulai tertutup dan tidur sampai pagi.  Begitu lah Cerita Kisah Asmara Di Villa Tepi Pantai

Pengalaman Pertamaku Di Kota Metropolitan

Sekitar hampir satu tahun lamanya sejak kuinjakkan kakiku di jakarta ini. Metropolitan yang keras. Tak pernah terbayangkan oleh sebelumnya. Ternyata diluar perkiraan ku. Lengah sedikit bisa dibantainya aku. Namaku Theo,28thn.  Asalku dari Ambon. Mulanya aku diajak kawanku kesini dengan iming-iming kerjaanku tidak terlalu berat. Hanya penjaga disebuah klub malam di mangga besar. Sebulan aku disana. Tapi tak berlangsung lama. Persaingan dengan geng lain disana kejam sekali. Ada aku punya kawan hilang entah kemana. Dengar2 dia diculik dan mayatnya dibuang di muara Angke. Ngeri kali.

Akhirnya sekarang jadi debt kolektor. Lumayanlah buat isi perut sehari2. 

Pada suatu hari aku sedang menikmati mati kopi dan rokok pada food court disebuah mall. Awalnya aku tidak bermaksud macam-macam,hanya menghilangkan rasa suntukku. Tiba2 saja beberapa meja didepanku ada seorang wanita,aku tak tau berapa umurnya. Kira2 pasti sudah punya anak. 

Dipandanginya aku terus sambil senyum-senyum. Akupun membalas senyum. Iya kan. Kita orang Ambon manise sangat ramah kalau ada orang suka pada kita orang. Lama2 dibuat aku salah tingkah. Lalu dia memberi seolah kode untuk datang kesitu. Akupun menurut. Maklum lah aku ini lugu. Sesampainya disitu duduk lah didepannya.

"Apa kabar bang? Baru pertama kali ya kesini?"

"Baik Bu. Eeh...iya..pulang dari kerja tadi saya".

"Siapa nama Abang?"

"Nama saya Theo,ibu. Nama ibu siapa. Boleh lah saya tau juga".

"Panggil saya Marni. Sendiri aja? Temennya mana?".

"Iya Bu. Kawan saya sudah pulang duluan tadi."

"Saya kira ada temennya lagi. Ajak aja kalo dia mau".

"Nanti saya bilangin ibu"

"Kamu gak sibuk kan?"

"Tidak ibu. Saya baru pulang kerja".

"Ooowh gitu...kita jalan2 yuk".

"Kemana ibu?".

"Udaaah...kamu ikut aja. Kamu pasti suka koq".

Diajaknya aku berkeliling mall sambil liat2 etalase mall. Aku banyak diamnya selama dia tidak memulai lebih dahulu.

"Kita keluar aja yuk"

Sampai diluar,dia memesan taxi online rupanya. Tak tau lah aku ini. Macam kerbau dicucuk hidung. Ia mampir sebentar disebuah mini market. Disuruhnya aku menunggu dimobil. Tak lama kemudian ia muncul denga menenteng sebuah plastik. Taxi meneruskan perjalanan dan memasuki sebuah hotel.

Kaget aku,kita punya jantung berdegup kencang. Timbul banyak pertanyaan. Mau apa dia kesini?Aahh... mungkin saja dia mau kasih aku kerja. Boleh kerja dihotel. Tak berpanas2 lagi dijalan.  Bisa jadi kulitku jadi putih disini...

Kuikuti terus dirinya sampai pada didepan pintu kamar. Diajaknya aku masuk. Masuklah aku... sudah terlanjur kepalang basah...basah sekalian lah.

"Kamu istrahat ya disini".

"Baik ibu..".

"Eehh...kamu jangan panggil saya ibu dong...emang saya udah tua yaaa...panggil mbak aja ya. Saya mau pipis dulu ya". Ia menuju kamar mandi. Kudengar suara pipisnya....macam suaraa...aku jadi tersenyum dalam hati.

Tidak berapa lama iapun keluar.... terkaget lagi aku. Mbak Marni hanya mengenakan handuk. Pakaian yang tadi dipakai sudah dilepas semua. Yang membuat aku terkejut lagi... tubuhnya yang gemuk dan... mama disurga...

Mbak Marni naik keatas tempat tidur dan dengan posisi mengajak aku dengan tangannya.

"Duduk sini Theo...koq diam aja dari tadi. Jangan takut2 gitu. Pijitin mbak ya..".

Ia tengkurap masih memakai handuknya.

"Iyy...iyyaa...mbak..eh...yang mana yang saya mau pijat mbak?".

"Betis mbak ya. Tadi jalan di mall capek banget kaki mbak".

Aku mulai memijat betisnya. Jantungku makin berdetak kencang... tanganku gemetar. Bagaimana tidak. Betis putih dan mulus itu...membuat pendulumku menjadi keras. Kupijit terus dari telapak kakinya sampai dibelakang lututnya. 

"Mantap sekali pijitan kamu Theo. Tenagamu kuat. Berasa pijitan kamu. Naik lagi kepaha mbak ya".

Oooh....mama disurga...kutelan ludahku....cobaan apa lagi ini. 

Akhirnya kuturuti apa maunya. Ia masih memakai handuknya. Kuselipkan jari2 tanganku dibalik handuknya dan memijat pahanya yang mulus. Gerakan tanganku naik turun sepanjang paha mbak Mirna. Aku melihat tubuhnya menggeliat... nafasnya mendesis.

"Hhhhmmm...pintar sekali kamu Theo. Mbak suka tangan kasarmu itu...mmmmm.... teruskaaaaannn... Theo..."

Baca Juga : 

Aku makin bersemangat....hingga jari2ku sedikit menyentuh didalam pangkal pahanya. Ia kaget dan bergelinjang. 

Sejurus kemudian ia membalikan tubuhnya. Aku kaget. Pasti dia marah aku lakukan yang tadi itu. Ia hanya tersent.

"Lhooo....kamu masih pake baju...lepas Doong....mbak bantuin ya.".

Ia membantuku melepas t shirt ku...dadaku yang berbulu halus dirabanya.... dilepaskan juga jeans ku... berikutnya celana dalamku.

"Wwoooow.....enggak salah deh perkiraan mbak tadi. Kamu pasti punya kontol yang besar...". Seraya dimain2kannya batangku. Kemudian ia berbaring dan menyingkapkan handuknya. Betapa sugahan yang indah...tetek yang besar...dan....bulu lebat diselangkangannya.

Sontak saja naluri laki-laki pun terkuak. Aku tindih tubuhnya... aku cium bibirnya....begitu ganasnya ia menciumku...kami saling gigit... sementara tanganku meremasi teteknya....

"Oooowwwhhh...theeeooo..... ternyata...kamu pintar...yaaa....sssshhhhhh... aaahhhhh....".

Aku hanya diam ,dan kuteruskan jilatanku pada dadanya...kumasukkan dalam2 pentil teteknya dalam mulutku.... tangannya menggapai teteknya sendiri...dan arahkan lebih dalam lagi....ku dengar teriakannya...

Tiba2 ia tolak kepalaku...dan menarik pinggangku yang membuat kontolku sekarang didepan wajahnya.... seketika kemudian.....mbak Marni memasukkan kedalam mulutnya... tidak semuanya bisa masuk kedalam  mulutnya.. dijilatinya...akupun...berasa nikmat luar biasa...kedua tanganku bertumpu pada dinding dan melihat mbak Marni memainkan bibir dan lidahnya pada kontolku.

"Mmmmm...kontol kamu keras dan tegap Theo....aku suka sekali".

"Apa iya mbak...?" Kemudian kuteruskan jilatanku menyusuri tubuhnya yang gemuk... kugigit.

.tak ada yang terlewatkan... hingga bibirku tertuju pada onggokan daging yang menyembul diantara bulu lebatnya. Aku arahkan bibirku..... kugigit2 bibir vaginanya... lidahku masuk kedalam vagina putihnya.....dan tambah lagi dengan jari tengahku.

"Thheeeooooo....gilaaa..kaammmuuu...yyyaaaa....kaauu..apaaaakaaaan...mmemeeek...aaakkuuu.... aaaahhhh..... ssshhhh.. oooowwwhhh....".

Pinggangnya sontak ia dorong keatas...terbanting lagi .... bergelinjang kekanan...kekiri...kepalaku dan dijambaknya... didorong...namun kemudian ditarik lagi hingga aku kesulitan bernafas....lendir licinnya mengalir deras... kujilati.... dijepitkan pahanya pada kepalaku...aku makin bersemangat. Untuk kedua kalinya mbak Marni menjerit.

Akhirnya aku sudah permainan lidahku. Kucium bibirnya.

"Sekarang Theo.... sekarang....aku sudah tak tahan".

"Iyaaa... mbaaak..".

Kupegang kontol dan kuarahkan pada vaginanya. Namun sebelum aku masukkan,aku mainkan dengan menggesek2an pada bibir vaginanya....pada bulunya...dan kutepuk2..

"Thheeoooo....kamuuu..jahat yaaa....nyiksa mbak begitu..."

Suaranya yang penuh gairah dan birahi terasa merdu kudengar. Akhirnya......blllleeeesss.....kontolku perlahan memasuki lubang kenikmatan. Ia menjerit menahan rasa sakit... sekaligus menahan kenikmatan... matanya terpejam... bibirnya menyeringai....

"Oooowwwhhh..... theeeooo.....nikmat sekaaaliiiiii....kooon...tolmu iittuuu.... aaahhhh.....". 

Tangannya memeluk punggungku, ditekannya. Akupun merasakan hal yang sama. Kontolku bagai dijepitnya....terasa tersedot lebih dalam. Aku biarkan ia menikmati saat2 itu. Kemudian kudorong maju mundur....pelan2.... Kupandangi wajahnya yang sedang menikmati itu. Sesekali aku dorong hingga kedasar....ia menjerit....kutarik lagi....kumainkan kepala kontolku saja pada permukaan lubang vaginanya..... pinggangnya ikut terangkat saat kutarik. Seakan mengejar kontolku. Ia menikmatinya. Beberapa saat kemudian lengkingan jeritan panjang disertai gigitan pada punggungku...dan kurasakan hangatnya kontolku.

"Aaaaaawww.... thheeeooooo.... oooowwwhhh.....eeeeddaaannn.....ssshhiiit...dorong lebih dalam lagi theoo....." Rupanya mbak Marni sudah mencapai puncak kenikmatan. Nafasnya yang terengah-engah...keringat pada teteknya aku jilat. Akupun menghentikan goyanganku.

"Mbak sudah keluar kah?".

"Iyaaa.... hhhmmmm....kamu gila ya...aku gak nyangka bisa seperti ini".

"Tapi saya belum mbak....".

"Hhhhmmm...mbak sepong aja ya. Kamu rebahan ya".

Aku rebahkan tubuhku. Sekarang mbak Marni diatas kontolku....dan mulai dengan kulumannya... dijilatnya.... kontolku yang panjang dan besar ini rupanya tak bisa masuk semua dalam mulutnya. Berasa sekali hingga sampai kerongkongan.... disamping ia mengulum kontolku dirabanya dadaku....aku merasakan kenikmatan luar biasa.... Yessy saja pacarku tak sehebat mbak Marni ini....saat kontolku didalam, diisapnya...berasa ditariknya...dan dimainkan lidahnya didalam...berputar.... sebentar lagi aku merasakan mau keluar.....benar saja...aku tak sanggup menahan... crreeeet.... crreeeet....maniku menyembur dalam mulutnya...ia diam sejenak dan menunggu sampai tembakan terakhir....oooh... Tuhan... dijilatinya habis tak tersisa.

"Hhhhmmm....mani kamu banyak banget... kental... gurih2 mbak suka yang seperti ini....".

Aku hanya terdiam.  Nafasku naik turun....masih merasakan nikmat jilatan bibir dan lidahnya..

"Mbak Marni.... saya tak tahan lama2 dengan jilatan mbak. Berasa nikmat sekali...memek mbak juga begitu...terasa ditarik2 kedalam...".

"Bisa aja kamu nih. Kamu sering ya beginian?".

"Baru dua....eh...tiga kali dengan pacar saya".

"Enak mana dengan saya?".

"Ooo...jelas...mbak Marni punya lebih enak".

"Kamu nih...udah bisa gombal yaa...mandi sama yuk...kita pulang. Sebentar lagi suami mbak pulang. Nanti dia pulang mbak gak ada dicariin ".

Aku mandi bersama dengan mbak Marni. Saling membasuh sabun. Karena kemolekan tubuhnya, akhirnya kami bermain lagi didalam kamar mandi. Dengan posisi berdiri,duduk hingga mbak Marni pada posisi nungging. Kali ini aku tembakan dalam vaginanya...ia menjerit sejadi-jadinya.

Itulah awal pengalamanku. Aku sering mencarinya juga di Facebook atau Twitter. Sebagai pemuas ibu2 atau wanita muda kesepian yang ditinggal suaminya kerja diluar kota. Mbak Marni pun sering kali menelpon ku menemaninya untuk memuaskan kebutuhan birahinya. Begitulah Akhir Cerita Pengalaman Pertamaku Di Kota Metropolitan