Kisah Asmara Di Villa Tepi Pantai

Seorang kebangsaan Norwegia. Mengendarai BMW merah dengan kap terbuka menyusuri perbukitan Jimbaran. Angin pantai dan beberapa ekor burung melintas diantara gugusan bukit nan hijau. 

Mobilnya terhenti pada sebuah pintu kayu diapit gapura batu. Sebuah sanggar tari. Beberapa orang menyambutnya dengan senyum.

"Good evening sir. Looking for someone sir?".

"Saya mau bertemu dengan Savitri" jawabannya dengan bahasa Indonesia cukup fasih .

"Ooooo... bahasa Indonesia anda bagus sekali. Anda datang pada saat yang tepat. Sebentar lagi dia keluar. Kebetulan kelas telah selesai".

"Baik. Terimakasih".

"Terimakasih kembali. Silahkan menunggu tuan".


Tidak berapa lama seorang wanita muncul dari balik pintu. Tinggi, dengan tubuh ramping. Berbalut kain batik sepinggang dan kaos putih. Dibiarkan rambut panjangnya terlepas terurai ditiup angin sore. Setangkai bunga terselip ditelinganya. Dari kejauhan senyumnya menyambut kehadiran Hans.

"Kau sudah lama menunggu?". Seraya disandarkan tubuhnya dengan manja pada diri Hans.

"Tidak begitu lama. Bahkan rokokku pun belum habis". Mereka beradu bibir.

"Kau akan aku kemana?"

"Kau ikut saja. Nanti juga tau. Kau pasti suka".

Dalam perjalanan mereka melakukan perbincangan. Sesekali tawa renyah Savitri membuat Hans memperhatikan begitu lama. Bagaimana tidak, seorang gadis Indonesia dengan kulit sawo matang yang menurutnya begitu eksotik. Hidung yang tak terlalu mancung,sorot mata yang selalu berbinar saat bicara dan tersenyum. Hans begitu terpukau saat pertemuan pertamanya dengan Savitri pada sebuah pagelaran seni di Madrid dalam event pertukaran budaya dan seni. Tiga bulan kemudian Hans menemuinya langsung ke Indonesia.

"Aku akan mengunjungimu beberapa bulan yang akan datang" ucapnya saat melepas Savitri kembali ke Indonesia.

"Kau terlalu baik untukku selama aku di Madrid ini. Tentu saja aku akan menunggu".

Indonesia.

Sebuah cafe kecil dengan cahaya redup. Mereka melantai. Direbahkan kepalanya di dada Hans. Sesekali mereka berciuman. Hampir tiga hari itu mereka lakukan yang diakhiri dengan pergumulan percintaan disebuah kamar hotel. 

"Kami sedang mempersiapkan kembali untuk pementasan di Oslo" Savitri membuka percakapan setelah mereka menikmati malam dibawah terang bulan purnama.

"Kapan?"

"Tiga bulan kedepan"

"Itu artinya kau bisa berkunjung ke tempatku. Sebuah desa kecil. Kurasa,aku nanti yang akan menunggumu disana".

Jendela kaca yang separuh terbuka membuka jalan angin untuk menghangatkan ruang kamar hotel. Sengaja lampu yang dimatikan. Membuat tubuh mereka berkeringat kembali. Dalam lenguhan... desahan panjang Savitri... mencengkeram punggung berotot Hans. Lelaki itupun tak kuasa kenikmatan itu menahan tubuhnya hingga membungkuk. Tubuh Savitri yang kecil itu tertutup dibawah tubuh Hans yang kekar dengan bahu lebarnya.  Savitri seakan mendapatkan cinta sejatinya sepeninggal Hermawan yang lebih memilih Julia. 

Villa tepi pantai.

Savitri berdiri disisi jendela. Pandangannya kearah laut lepas. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Dengan kain jarik batik yang melilit sebatas bawah ketiaknya, itu memberikan kesan menawan bagi Hans. Dihampiri dan dipeluknya dari belakang. Dikecup leher jenjangnya diusapkan keseluruh bagian leher Savitri. Savitri hanya diam. Tak ada reaksi. Dingin. 

"Ada apa honey...?".

Savitri membalikkan badannya. Dipandanginya lelaki bule itu. Mata yang biru,garis tegas pada dagunya yang persegi. Diusapkan jarinya didada Hans.

Baca Juga : 

"Honey...jangan kau bawa aku terlalu jauh kedalam petualanganmu. Kau tau, budaya kita berbeda".

"Heeey.....don't worry about that". dengan bahasa gaya ala ala barat.!!

Direngkuhnya tubuh Savitri dalam dekapannya. "Aku tak akan pernah meninggalkan kamu. Seorang petualang akan mengakhiri kisah pencariannya bila sudah menemukan harta karun terindahnya dan akan berlabuh pada dermaga terakhirnya. Aku akan menikahimu. Kita akan menikah di tempatku saat kau berkunjung ke Oslo" digenggamnya kedua pipi Savitri, diusapkan kedua ibu jarinya pada kedua matanya. Savitri menggeliat mengikuti gerakan tangan Hans.

"Is that true honey?" Menggunakan bahasa asing.

Didekatkan wajahnya dan dikecupnya bibir Savitri. Lembut. Mereka beradu bibir bagian luar hingga Savitri membuka bibirnya. Ciuman mereka semakin mengganas. Saling gigit bibir. Beradu lidah.

Perlahan tangan Hans melepaskan kaitan jariknya dan terlepas.  Tubuh Savitri yang ramping dengan buah dada indah. 

Cahaya matahari sore..menyelinap diantara jendela. Angin pantai membasuh kedua tubuh yang sudah bertelanjang tanpa sehelai benangpun. 

Hans masih mencumbui tubuh Savitri...setiap lekukkannya tak luput dari serangan bibir dan lidahnya. Pagutan2 yang menyisakan warna merah...dari leher....buah dadanya... pinggang...serta pangkal pahanya...dan kini bibir dan lidahnya menyeruak masuk dalam lubang vaginanya....melumat habis gundukan bibir vaginanya... lidahnya menyapu bersih setiap lendir itu menetes keluar.

"Oooooowwwhhhh.....honeeeyy...do it again honeey.....yyyeaahh....ssshhh aaahhhhh.....lebih dalam lagiiiii..... nnngghhkk....". 

Pinggulnya terangkat saat jari tengah Hans ikut bermain dalam vaginanya. Terlonjak tak karuan..... menjerit ditengah desiran ombak.... langit mulai gelap.

Hans berhenti sejenak dan mengamati bagaimana indahnya tubuh Savitri yang mulai berkeringat dengan nafas terengah-engah.

Kamar tanpa cahaya lampu. Namun cukup menggambarkan warna kulit Savitri yang eksotik.

Mereka beradu bibir lagi.

"Honey...aku menginginkannya sekarang...".

Dengan posisi merangkak. Tampak dari belakang vaginanya yang memancing Hans untuk menjilatinya lagi. Sesekali digigitnya dua buah daging pantatnya. Sejurus kemudian diarahkan penisnya. Gerakan maju mundur menimbulkan suara2.... Savitri terengah-engah kembali.... umpatan2 kotor keluar dari mulutnya. Akhirnya dirinya roboh tengkurap. Namun Hans masih menghujamkan penisnya semakin dahsyat.

"Ooo....my God.... honeeeyy....yeeaah....sssshhh... aaahhh.... ooowwhh...." (Dengan Gaya Seperti Film Barat) Asikkk

Hingga pada momen ditelungkupkan wajahnya bantal dan berteriak....Hans menciumi bibirnya dari belakang....saling gigit.

Hans merubah posisinya Dengan mengangkangi Savitri. Dibuka lebar-lebar pahanya...dan....blesssss..... kejantanan Hans masuk untuk kedua kalinya. Gerakan maju mundur....kali Savitri yang semula terbuka lebar kini dikaitkan dipinggang Hans. Ditekannya... digoyangkan pantatnya....

"Honeeeyy.....i am coomiiiing....."

 Semburan cairan hangat dan  kental membanjiri liang vaginanya. Diikuti dengan lolongan  panjang Savitri disertai lonjakan tubuhnya.

Deru nafas Hans naik turun diatas Savitri. Cinta dan keringat mereka menyatu. Diakhiri dengan ciuman panjang.

Tubuh Hans rebah disamping Savitri. yang sedang lemas lunglai dan angin pantai tetap berhembus dengan sekejap mata mulai tertutup dan tidur sampai pagi.  Begitu lah Cerita Kisah Asmara Di Villa Tepi Pantai

0 comments:

Post a Comment